Don`t judge a book by its cover.
Jangan menilai buku dari sampulnya.
Ada suatu pelajaran yang didapat kemarin.
Bisa jadi seseorang membeli buku tanpa mempertimbangkan sampulnya.
Tapi ada kalanya terdapat prasangka tertentu pada judul buku ataupun penulisnya.
Seorang kolega pernah berkata kalau dia beli buku, ia harus melihat dulu siapa penulis buku tersebut.
Mempertanyakan kredibilitas.
Ini adalah bukti bahwa masyarakat “ilmiah” belum cukup bijak untuk memutuskan sesuatu.
Kerdibilitas memang penting, tapi penulis pemula kurang diapresiasi.
Biografi penulis punya potensi mendapatkan apresiasi positif, bisa juga sebaliknya.
Jika perbedaan antara satu buku dengan buku lainnya adalah teks, sesungguhnya ada juga hal yang lain yang membedakan, yaitu bagaimana buku itu “dibaca”.
Prasangka-prasangka tentu menentukan bagaimana suatu buku ‘dibaca’.
Buku dibuat bukan hanya untuk dimengerti penulisnya saja, melainkan juga harus bisa dimengerti oleh pembaca.
Dimengerti pembaca adalah yang utama.
Buku sebagai kolektivitas teks akan dibaca dengan kacamata prasangka para pembacanya masing-masing.
Itulah, mengapa saya teringat, Pramoedya pernah berkata bahwa jika suatu tulisan diterbitkan, maka ia terlepas dari penulisnya.
Ia menjadi anak ideologis yang hidup mandiri dan diasuh oleh pembaca.