(dalam keputus-asaanku)
Theory can make us fly, but not to be real…
It`s too sweet…
Manusia sering dipandang hanya sebagai alat, termasuk alat kekuasaan.
Diperalat dengan menghancurkan martabat dan hakikat kemanusiaan.
Bagaimana membangun karakter jika dibangun di atas angin yang selalu siap membantai habis?
Masuk ke dalam struktur yang berorientasi pada arogansi elit, sangat menyakitkan.
terjerat dalam birokrasi yang penuh intrik hanya membuat orang menghadapi 2 hal:
Dehumanisasi yang pahit atau keberuntungan yang langka.
Ironis mungkin bukan istilah yang tepat, tapi setidaknya hanya itu yang tersisa.
Kemapanan struktur tidak menjamin sokongan terhadap eksistensialisme ke-diri-an.
Siapa yang memiliki klaim otoritas maka ia melegitimasi dirinya sendiri untuk menciptakan definisi-definisi.
Ontologi dipahami dalam deretan statistik.
Aksioma hadir dalam representasi nihilisme….
Itulah yang disebut ironis.
Manusia tidak boleh tampil lemah namun ia justru dilemahkan.
Keputusan-keputusan destruktif membuat produktivitas bagai menulis di atas air.
Akibatnya, pemakan bangkai diperlakukan bagai penabur benih….
Ironis.