Tunas begitu mengagumi seorang Profesor Sastra.
Begitu inspiratif menurutnya.
Tunas hampir bisa dikatakan menyembahnya.
Ia selalu tersentuh oleh tulisan-tulisan yang dibuat sang profesor.
Tunas begitu bersemangat membuat sebuat tulisan setelah mengikuti kuliah sang profesor.
Tunas mulai membuat suatu tulisan yang lahir dari hatinya.
Berhari-hari ia menulis dan (merasa) gagal.
Sampai pada akhirnya ia menyelesaikan tulisan itu yang baik menurutnya.
Ia tidak tahu lagi apakah yang ia tulis.
Apakah puisi, prosa, entahlah….
Yang jelas, setelah menulis ia merasa begitu bahagia………..
Tunas ingin berbagi kebahagiannya itu dengan sang profesor yang menginspirasi tiap torehan tintanya.
Namun ia tidak punya cukup nyali.
Tunas takut, profesor akan mencelanya.
Ia selalu membawa naskah tulisannya itu agar bisa dibaca dan dikomentari oleh sang profesor.
Namun setiap kali ia mendekati sang profesor, ia urung menunjukkannya.
Tunas bergetar dengan karisma sang profesor.
Tunas hanya menunggu sang profesor di depan pintu ruang kelasnya, kantornya, ataupun rumah sang profesor.
Ia tetap tidak berani.
Hari….bulan….tahun….ia hanya menunggu….
Bermain dengan ketakutannya sendiri.
Lama kelamaan, tunas menikmati penantiannya itu.
Antara ketakutan dan pengharapan.
Antara kenyataan dan impian.
Menikmati degub jantungnya kala sang profesor nampak.
Kala menunggu, ia sering berkhayal dapat bersahabat dengan sang profesor.
Sampai suatu saat Tunas, sadar bahwa naskah tulisannya mulai rusak.
Kertasnya lusuh dan sebagian sobek.
Tintanya juga mulai luntur.
Ia tidak ingin menyalinnya karena ia membanggakan orisinalitasnya.
Di sisi lain, ia tak ingin bertaruh apakah sang profesor akan menolaknya.
Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menunjukkan tulisannya kepada sang profesor, tunas berencana mengirimkan tulisannya itu dengan pos.
Karena terlalu gugup, ia tidak menuliskan namanya di tulisan yang dikirimnya itu.
Tulisan itu terkirim dan diterima sang profesor.
Profesor terkejut melihat kondisi naskah yang sangat lusuh dan sobek di sana-sini.
Namun ia membacanya…
Ternyata…
Sang profesor begitu tersentuh oleh tulisan Tunas walau baru pada kalimat pertama.
Sang profesor penasaran dengan penulis naskah tersebut.
Ia begitu terpesona dengan tulisan Tunas.
Ia menunggu penulis naskah itu datang, namun Tunas tak kunjung datang.
Karena tak kunjung tahu siapa penulis tulisan yang diterimanya, sang profesor mengumumkan agar si penulis menemuinya.
Tunas tidak datang……
Akhirnya, sang profesor mengabadikan tulisan-tulisan itu di tembok-tembok kampus.
Di akhir tulisan tunas, profesor menambahkan kalimat,
“Dari ia yang sedang mencari……”.
Kemanakah Tunas?
Ia tidak sedang mencari lagi.
Ia telah menemukan.
Menulis karya sastra bukan sekedar mengakui atau diakui.
Melainkan berbagi ide, nilai, bahkan kebahagiaan.
Akhirnya Tunas sadar bahwa tidaklah penting apakah sang rofesor akan menghargai atau menolak tulisannya.
Dia – dalam penantian dan pengharapan – sadar bahwa menulis adalah merayakan diri.
Tunas tidak pernah tahu – bahkan merasa tidak perlu tahu – bahwa sang profesor mengapresiasi positif tulisannya.
Bagi Tunas, ia hanya ingin berbagi bahagia dengan guru idamannya.
Tunas menemukan dunianya dalam tulisan-tulisan dan pengelanaannya.
Kisah Sebuah Tulisan (Minggu, 26 November 2006)
Februari 27, 2007 oleh Eggy