Feeds:
Tulisan
Komentar

Pulang…

Suatu perjalanan pulang akan selalu membawa rasa pilu.

Kepiluan akan kesuksesan ataupun kepiluan akan kegagalan.

Pulang adalah merasakan pedih.

Adakah yang tersisa?

Selalu ada sisa dan tersisa untuk diratapi.

Kerinduan.

Perpisahan.

Harapan.

Selalu tersisa pertanyaa dan kegelisahan.

Hujankah esok pagi?

 

Seorang kekasih melukis puisi.

Seorang sahabat mengukir prosa.

Dan disertai orang-orang terdekat yang turut tersenyum.

 

Lalu apa yang kau rasakan sekarang?

Hampa. Rindu.

Perjalanan telah kau tempuh , dan lulus.

Kau dapatkan lebih dari yang kau harap.

Apakah yang kau ratapi?

Ini bukanlah akhir.

Ini adalah langkah pertamamu…

 

Fajar akan datang.

Setelah lama kau harap dan tunggu.

Malam ini, mulailah kau gores kertasmu dan gambarlah wajah masa depanmu.

Tersenyumlah sayang…

Kesendirian tidak akan membunuhmu.

Ia akan menemanimu.

Bersama ruang-ruang kosong dan jalan-jalan sepi.

Jangan takut, karena doa-doa, telah menjagamu.

 

Seseorang pernah menulis :

“Hidup adalah perjuangan yang arus dimenangkan”.

Berbaris kata dan rangkaian ide harus dinyatakan.

Kehendak terurai dalam tindakan.

Bertarunglah dengan gagah.

Kemenangan akan digenggam, bahagia akan digapai.

 

Buka matamu dan berdirilah dalam keyakinan yang kokoh.

Apa yang kau tulis kemarin hanyalah sketsa.

Sekarang, selesaikan lukisanmu.

 

“Ukirlah sejarah hidup yang indah untuk ditulis, dibaca, dan dipahami”.

Dari seorang sahabat.

Don`t judge a book by its cover.

Jangan menilai buku dari sampulnya.

Ada suatu pelajaran yang didapat kemarin.

Bisa jadi seseorang membeli buku tanpa mempertimbangkan sampulnya.

Tapi ada kalanya terdapat prasangka tertentu pada judul buku ataupun penulisnya.

Seorang kolega pernah berkata kalau dia beli buku, ia harus melihat dulu siapa penulis buku tersebut.

 

Mempertanyakan kredibilitas.

Ini adalah bukti bahwa masyarakat “ilmiah” belum cukup bijak untuk memutuskan sesuatu.

Kerdibilitas memang penting, tapi penulis pemula kurang diapresiasi.

Biografi penulis punya potensi mendapatkan apresiasi positif, bisa juga sebaliknya.

 

Jika perbedaan antara satu buku dengan buku lainnya adalah teks, sesungguhnya ada juga hal yang lain yang membedakan, yaitu bagaimana buku itu “dibaca”.

 

Prasangka-prasangka tentu menentukan bagaimana suatu buku ‘dibaca’.

Buku dibuat bukan hanya untuk dimengerti penulisnya saja, melainkan juga harus bisa dimengerti oleh pembaca.

Dimengerti pembaca adalah yang utama.

Buku sebagai kolektivitas teks akan dibaca dengan kacamata prasangka para pembacanya masing-masing.

 

Itulah, mengapa saya teringat, Pramoedya pernah berkata bahwa jika suatu tulisan diterbitkan, maka ia terlepas dari penulisnya.

Ia menjadi anak ideologis yang hidup mandiri dan diasuh oleh pembaca.

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

(di Jogja, diiringi lagu Iwan Fals : Mabok Cinta)

Kebebasan membuatmu rindu.
Dan kerinduan itu membuatmu jatuh cinta.
Sertelah kembali merasakan kebebasan,
walau sejenak,
maka kita akan mulai merenungi:
mengapa rela menukar kebebesan itu dengan beberapa lembar upah?

Dan kembali,
kebebasan membuat mabuk pada manisnya.
Dan manisnya merasuk pada sumsum terdalam
jiwa muda yang haus ditenggelamkan samudera idealisme.

Kebebasan…
bagai lagu:

o….hari ini aku bahagia!
kau kembali……………….
o….hari ini aku bahagia!
jatuh cinta lagi……………

Egoisme adalah mata pedang yang buta.
Melukai siapa saja tanpa mempertimbangkan hal itu dikemudian hari.
Egoisme inilah yang merusak citra diri.
Bukan hanya si pemilik ego,
melainkan juga orang lain yang tujuannya berbuat baik
dengan niat yang tulus.

Niat baik dengan cara yang salah juga bisa menimbulkan masalah.
Bahkan ketika niat baik itu bertujuan
untuk menolong orang lain yang terlunta-lunta.

Ego yang sesat menghempaskan niat baik itu sampai luka dan malu.
Bahkan ketika niat baik itu menyesal dengan caranya yang salah,
ego sesat itu tak ambil peduli.
Kesesatan itu disebarkan untuk menciptakan teror.
Yang ada hanya arogansi,
tanpa rasa kemanusiaan.

Dimanakah saya?

Seorang penjual balon.
Laki-laki tua itu menuntun sepeda tua dengan kardus diboncengan.
Di kardus itu diikat dua balon yang tak besar.
Dia sendiri membunyikan balon yang dipegangnya.
Berjalan pelan di jalan basah karena hujan tadi pagi.
Udaranya cukup panas.
Suara balon pak tua itu terdengar lirih.
Ia berteduh disebatang pohon.
Cuma sebentar.

Berkali-kali ia membunyikan balonnya dengan lirih.
Berarap akan ada yang membeli.
Rumah-rumah yang tertutup dan jalan-jalan yang sepi.
Tak ada hasil.
Yang ada hanya terik mentari dan angin panas yang menabuh daun-daun.
Pak tua itu berlalu.
Berjalan pelan menuntun sepedanya.

Laut yang tenang tidak akan menciptakan pelaut yang tangguh.
Pribahasa.
Masalahnya, apa yang diarungi sekarang adalah sungai…
Sungai dengan jeram yang buas.

Tantang tersulit bukanlah tenggelam dalam badai.
Namun tantangan terberat adalah jangan sampai
menghantam batu-batu yang siap mematahkan
setiap tulang pada tubuh menjadi cerai-berai.

Bukan tenggelam dalam kepentingan-kepentingan yang kompetitif,
melainkan terbentur pada egoisme, sentimen, emosi, arogansi, dan subjektifitas.

Sesungguhnya
Ini bukanlah sungai apalagi laut.
Ini hanyalah kolam kecil.
Yang sebentar lagi akan mengering.
Dan yang kau butuhkan adalah sumur.

Manusia menikmati kehancuran.
Membangun peradaban lalu menghancurkannya.
Setiap kebudayaan sepertinya memiliki energi destruktif.
Baik kapada budaya yang lain maupun kepada kebudayaan itu sendiri.

Mungkin itulah jalan evolusi.
Mekanisme seleksi alam.
Mungkin itu juga adalah alat reproduksinya.

Suatu kebudayaan lahir,
lalu tumbuhlah ia dalam peradaban,
kemudain punah silih berganti suksesi itu terjadi.

Pantaslah para evolusionis klasik menyamakan atau menganalogikan
kebudayaan seperti organisme.

Jika kebudayaan adalah orgsnisme
lalu manusia adalah…???

Ada yang ajaib dalam angka-angka.
Ada suatu misteri yang bisa jadi juga arogan.
Manusia menciptakan angka-angka.
Manusia-manusia itu jugalah yang dihitung melalui angka-angka.
Diukur pengetahuannya,
pemahamannya,
aplikasinya,
analisisnya,
sintesisnya,
bahkan dievaluasi.
Baik dalam ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif.
Lalu bagaimana mengukurnya?
Manausia adalah suatu eksistensi.
Bagaimana mengukur suatu eksitensi?
Manusia adalah subjek.
Aapah mengukur manusia sama dengan objektifikasi subjek?
Apakah sang pengukur punya kompetensi absolut untuk mengukur yang diukur?
Aapah subjektifitas dapat dijadikan patokan untuk itu?
Lalu, siapa yang menjadi subjek dan objek?

Surprise! Surprise!
Entah apalagi yang akan membuatku terkejut.
God must be love me, anyway.
Ada dua pelajaran penting yang kudapat
di hari yang panas dan malam yang dingin ini.

  1. Bahwa luka di masa lalu akan mereproduksi bukan hanya di masa depan tapi juga kepada manusia lain, misalnya kepada anak. Kadang tanpa sadar kita membenci diri kita sendiri. Tak punya percaya diri, anoreksia, obesitas, emosional komulsif, dan lain-lain. Semuanya membuat kita merasa tertekan dan tak bahagia. So…face it!!!
  2. Keberuntungan itu memang eksis. Dia nyata dan tak mungkin dapat disangkal. So..Face it!! You born that…fortune!!

Tulisan Sebelumnya »